fah@uinsgd.ac.id (022) 6370 0715
  • Kontak
  • Pusat Studi Islam Sunda
Profil FAH

Gelar Webinar Nasional, Prodi SPI UIN Bandung Ingatkan Kembali Peran Umat Islam bagi NKRI

Webinar Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung

Prodi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengadakan seminar nasional dengan tema ‘Kontribusi Umat Islam dalam Memperjuangkan dan Mempertahankan Dasar-Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia” pada Kamis, 27 Agustus 2020 mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Acara seminar dikemas dengan webinar melalui aplikasi zoom meeting karena masih menyesuaikan dengan kondisi pandemi yang masih belum usai.

Webinar Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung

Acara webinar yang bekerjasama dengan Perkumpulan Prodi Sejarah Indonesia (PPSI) tersebut menghadirkan empat sejarawan sebagai pembicara utama, yaitu Prof. Dr. Purnawan Basundoro dari Universitas Airlangga, Dr. Abdurakhman dari Universitas Indonesia, Dr. KH. Asep Ahmad Hidayat dari UIN Bandung dan Dr. KH. Ajid Tohir dari UIN Bandung.

Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. Samsudin, M.Ag. Dalam sambutan singkatnya, Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung tersebut menyebut pancasila sebagai titik temu berbagai perbedaan dari berbagai kalangan yang ada sehingga menjadi pemersatu bangsa dari dulu hingga sekarang, jadi jangan sampai dibenturkan dengan islam. “Pancasila dan UUD memiliki nafas yang panjang dan masih aktual hingga sekarang, memang pernah ada ideologi-ideologi lain yang mampir pada kita, namun ideologi tersebut tidak pernah memiliki nafas yang panjang,” ujarnya.

Webinar Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Bandung

Sambutan berikutnya adalah dari ketua PPSI, Dr. RM. Mulyadi, yang mengatakan bahwa jika kita berbicara mengenai peran umat Islam bagi bangsa ini, tentu kita akan berbicara mengenai keseluruhan bangsa ini, karena kita bisa melacak fakta sejarah tentang peran dan perjuangan umat Islam sepanjang sejarah bangsa. “Negosiasi tentang piagam Jakarta dalam Pancasila merupakan sumbangan besar dan peran umat islam dalam menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara,” bebernya.

Dekan FAH UIN Bandung Webinar

Dekan Fakultas Adab dan Humniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung juga turut memberikan sambutannya. Menurut Dr. Setia Gumilar, M.Si., membicarakan peran umat Islam tentu tidak akan ada habisnya  bagi bangsa dan negara ini. Salah satu jejaknya bisa dilihat dalam pembukaan UUD yang menyebutkan ‘Atas berkat rahmat Allah Yang maha Kuasa…’. Dalam perjuangan mempertahankan NKRI, merumuskan konsep dasar negara dan membangun bangsa sejak dulu tidak terlepas dari peran besar umat Islam. Oleh sebab itu, Setia mengharapkan memori sejarah ini dimunculkan kembali dalam webinar agar nilai-nilainya bisa diimplementasikan dalam konteks kekinian. “Saat ini ada sebagian orang atau kelompok yang berfikir terlalu kaku, keras dan sektarian sehingga mengganggu keutuhan kita dalam berbangsa dan bernegara. Ini menjadi PR kita para sejarawan untuk memberikan memori dan menyadarkan kembali pada orang-orang yang amnesia sejarah, bagaimana sejak dulu bangsa kita selalu mengedepankan persatuan, diikat nilai-nilai humanistik, sehingga bangsa menjadi maju dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Inilah nilai-nilai sejarah yang harus diimplementasikan untuk konteks kekinian,” jelasnya.

Acara Webinar yang dipandu dosen Prodi SPI UIN Bandung, Fathia Lestari, M.Hum. ini menampilkan Prof. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum. yang mengingatkan kembali perjuangan umat dalam merumuskan dasar negara dan perjuangannya dalam setiap fase sejarah bangsa Indonesia. “Karena posisinya yang mayoritas, maka ummat Islam senantiasa berkontribusi dalam setiap fase perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Mulai dari terbentuknya budaya bangsa, respon terhadap kolonialisme, sampai pembentukan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) senantiasa melibatkan ummat Islam” paparnya.

“Peran umat Islam dalam sejarah Indonesia ini cukup unik, mereka bisa menyatukan gagasan keindonesiaan, bukan hanya horizontal (antar daerah dan kepulauan), tapi juga secara vertikal (menyatukan berbagai kalangan, dari kalangan bawah, menengah dan kalangan atas),” lanjutnya.

Prof. Purnawan juga menyoroti kondisi bangsa Indonesia saat ini, dimana ada sekelompok orang yang mencoba membangkitkan kembali gagasan dan perdebatan yang terjadi di tahun 45-50an. “Tapi realitas saat ini sudah tidaksesuai lagi. Sudah tidak relevan lagi untuk memperdebatkan dasar negara, Pancasila menjadi realitas historis & sosiologis yang menyatukan Umat Islam. Bahkan jika dipermasalahkan lagi, malah akan merugikan umat Islam itu sendiri. Kontribusi besar kita sejak dulu untuk bangsa ini menjadi berantakan jika masih memperdebatkan hal ini. Yang paling penting sekarang adalah mengimplementasikan keindonesiaan & keislaman kita untuk kemajuan bangsa,” pungkasnya.

Dr. KH. Asep Achmad Hidayat, M.Ag. sebagai pemateri selanjutnya membuka kembali memori perjuangan umat Islam, terutama saat datangnya imperialisme klasik yang pertama. Terbukti menurutnya yang memberikan respon perlawanan adalah para kesultanan Islam dan para ulama serta umat Islam tentunya. Bahkan banyak para ulama tarekat dan pengikutnya yang tidak tercatat dalam sejarah, namun mereka memiliki peranan besar dalam mempertahankan Indonesia.

Pemateri yang akrab dipanggil Abah Asep ini juga menyebutkan Pancasila bukan hanya hadiah terbesar tapi juga pengorbanan terbesar umat Islam untuk keutuhan bangsa. Sila-sila Pancasila saling terkait dan mengilhami satu sama lain sehingga bisa bertahan sebagai dasar negara. Selain itu, mengenai isu kekinian tentang khilafah Islamiyah, Kaprodi Sejarah dan Kebudayaan Islam jenjang magister UIN Bandung tersebut menyebutkan bahwa Pancasila itu bisa dikatakan merupakan “sistem khilafahnya NKRI”. “Khilafah itu salah satu sistem pemerintahan saja, bukan sebuah kewajiban, dan Pancasila ini bisa dikatakan “sistem khilafahnya Indonesia”. Karena Pancasila juga digali dari nilai-nilai agama,” jelasnya.

Webinar SPI

Dr. Abdurakhman, M.Hum dari Universitas Indonesia menggali sejarah awal munculnya nasionalisme, masa pencarian ideologi bangsa Indonesia, perumusan dasar negara dan lahirnya undang-undang. Ketua Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tersebut juga menjelaskan tentang sejarah penerimaan tokoh Islam terhadap perubahan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa pada sila pertama Pancasila. “Ini merupakan pengorbanan besar umat Islam untuk persatuan Indonesia. Suatu wujud toleransi yang besar. Hal ini juga sesuai juga dengan semangat apa yang diucapkan Soekarno pada pidato 1 Juni 1945 ‘verdraagzaamheid’ atau toleransi/ tenggang rasa”, jelasnya.

Dr. H. Ajid Thohir menyoroti perjuangan umat Islam, khususnya kaum sufistik, para pengikut tarekat dan para penganut Islam Ahlussunnah waljama’ah dalam menjadi benteng keutuhan NKRI sejak dulu hingga sekarang. Dan Beliau juga menyayangkan munculnya faham Islam radikalisme dan intoleran serta faham lainnya yang belakangan ini menjangkiti sebagian masyarakat, terutama para mahasiswa. “Para pengamal thoriqoh (masyayikh dan para murid thoriqoh) di antara yang memberikan perhatian serius terhadap fenomena tersebut. Mereka merasa prihatin terhadap gejala radikalisme, pragmatisme dan positivisme yang belakangan berkembang di masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa. Karena sangat disadari betul oleh para pengamal thoriqoh bahwa mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan kepemimpinan bangsa ini. Bagi para pengamal thoriqoh, mahasiswa adalah aset bangsa yang harus dibina dan dijaga dari segala bentuk yang dapat merusak kepribadian dan akhlak mereka”, jelasnya.

Acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab antara para peserta dan pemateri. Meskipun tidak semua pertanyaan bisa ditampung karena terbatasnya waktu, namun para peserta tetap antusias menyimak penjelasan para pemateri. Setelah istirahat, acara dilanjutkan dengan parallel session oleh beberapa orang pemateri, diantaranya Prof. Dr. Sulasman, Dr. Ajid Hakim, Dr. Dadan Rusmana, Dr. Suparman, Dr. Widiati Isyana, Agus Permana, M.Ag, Amung ASM, M.Ag. dan lain-lain dari para pengurus dan anggota PPSI. (addriadi)

Related Posts

Department Contact Info

School Of Law

1810 Campus Way NE
Bothell, WA 98011-8246

+1-2345-5432-45
bsba@kuuniver.edu

Mon – Fri 9:00A.M. – 5:00P.M.

Social Info

Student Resources