fah@uinsgd.ac.id (022) 7800525

Afirmasi Merdeka Belajar-Kampus Merdeka dalam Konfigurasi Kurikulum Prodi Sastra Inggris

Dunia pendidikan tidak akan terlepas dari tuntutan zaman. Mendikbud RI Nadiem Makarim menegaskan sikapnya bagi pengelola perguruan tinggi untuk mengimplementasikan merdeka belajar-kampus merdeka. Sebagai respon dari wacana ini, civitas akademika FAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengusung topik yang bertajuk Afirmasi Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar dalam Konfigurasi Kurikulum Prodi-Prodi. Diskusi dibagi menjadi dua sesi, yaitu level fakultas dan prodi.

Di tingkat fakultas Wakil Dekan Bidang Akademik FAH UIN Bandung, Dr. Dadan Rusmana, M.Ag. memandu acara diskusi. Dadan mengungkapkan bahwa merdeka belajar ini menjadi tantangan bagi FAH UIN Bandung. Kemerdekaan yang dimaksud adalah kemerdekaan bagi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM). Oleh karena itu, kesepahaman tentang merdeka belajar harus ditindaklanjuti.

Dalam kesempatan ini, FAH mengundang Dr. H Enjang AS, M.Si., M.Ag. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung sebagai narasumber. Enjang mendeskripsikan bahwa kampus merdeka ini menjadi suatu kebijakan yang perlu diperhitungkan implementasinya. Terlebih lagi, sejumlah kesulitan akan ditemukan dalam pelaksanaannya. Dalam merdeka belajar, mahasiswa dapat mengambil mata kuliah sebanyak 3 semester (60 sks) di luar prodi dengan komposisi 1 semester (20 sks) di luar prodi pada PT yang sama dan 2 semester (40 sks) di luar prodi yang sama atau beda di PT yang berbeda. Hal ini akan menjadi hambatan bagi mahasiswa untuk mengurus perihal administrasi. Permasalahan administrasi ini harus dapat dibenahi. Perlu adanya integrasi administrasi antarlembaga sehingga rekam jejak mahasiswa dalam mengikuti KBM dapat tercatat pada forlap Dikti. Hingga kini, belum ada evaluasi terhadap penyusunan kirikulum di tingkat prodi di FDK. Hal ini dapat mendatangkan persoalan terhadap keberlangsungan mahasiswa itu sendiri, terutama masalah pencetakan dan penomoran ijazah. Permasalahan itu tidak bisa dikaji secara parsial, dibutukan langkah secara sistemik. Merdeka belajar ini memiliki sisi positif, termasik pengalaman bagi mahasiswa dalam mengikuti kbm di luar prodi asal. Pada era post-modern ini, mahasiswa dituntut untuk mengembangkan bakatnya.

Enjang memaparkan bahwa prodi harus bersinergi dengan fakultas untuk mempersiapkan jaminan mutu lulusan. Uji kompetensi diperlukan untuk mencetak lulusan yang sesuai dengan capaian profil lulusan. Kebebasan memilih mata kuliah ini menjadi hambatan dalam menentukan core keilmuan suatu prodi. “Diperlukan modul yang tepat bagi mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan” imbuh Enjang.

Pada sesi berikutnya, pembicaraan dilanjut di tingkat Prodi Sastra Inggris. Dalam kesempatan ini, Dr. Andang Saehu, M.Pd. selaku Kaprodi mensosialisasikan wacana merdeka belajar ini kepada para dosen. Andang mengutarakan sampai saat ini belum ada pedomam merdeka belajar-kampus merdeka yang dirilis oleh Kemenag. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa diberikan kebebasan untuk mengambil sejumlah mata kuliah baik di prodi asal atau luar prodi selama tiga semester. Mahasiswa yang mengikuti KBM di prodi asal tidak akan menemui hambatan. Sebaliknya, mahasiswa yang berkuliah di luar prodi harus melakukan upaya lebih lanjut. Mahasiswa akan disajikan mata kuliah mayor dan minor. Mata kuliah mayor dapat diambil selama mengikuti perkuliahan di prodi asal sedangkan mata kuliah minor dapat diikuti ketika mahasiswa berkuliah di luar prodi yang tidak linear dengan prodi asal. Dengan demikian, diperlukan model kerja sama antar institusi agar merdeka belajar ini dapat terlaksana, imbuhnya.

Related Posts