fah@uinsgd.ac.id (022) 6370 0715
  • Kontak
  • Pusat Studi Islam Sunda
Profil FAH

FAH Bahas Substansi & Teknis Implementasi Kebijakan Kampus Merdeka dalam Diskusi Virtual

Flayer Kampus Merdeka FAH

Implementasi Kampus Merdeka – Merdeka Belajar sudah di depan mata. Semua perguruan tinggi harus bersiap dengan berbagai teknis pelaksanaan dan peraturan-peraturan yang telah disiapkan.  Oleh sebab itu, Fakutas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengadakan berbagai kajian dan diskusi sebagai salah satu persiapan implementasi kebijakan Kampus Merdeka. Salah satunya menggelar webinar yang dikemas dalam acara Diskusi Virtual Nasional dengan tema “Implementasi Kebijakan Kampus Merdeka – Merdeka Belajar di Lingkungan PTKIN” pada Selasa, 15 Desember 2020.

webinar kampus merdeka FAH

Acara yang dihelat via aplikasi Zoom Meeting tersebut menghadirkan dua narasumber, yaitu Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag dan Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag. Dibuka dengan basmallah dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Dr. Widiati Isyana, M.A yang bertindak sebagai MC menjelaskan secara garis besar tentang tema yang akan dibahas pada webinar kali ini.

Dalam sambutannya sebelum membuka acara seminar secara resmi, Dekan FAH, Dr. H. Setia Gumilar, M.Si. menyampaikan bahwa perubahan paradigma dan konsep yang ditawarkan program kampus merdeka ini bertujuan untuk menyiapkan para alumni agar memiliki berbagai disiplin ilmu yang siap menghadapi kompleksnya tantangan di masa depan, Dr. Setia juga mengharapkan para narasumber bisa memberikan pencerahan agar segenap sivitas akademika, khususnya di lingkungan FAH bisa sama-sama bersiap dan bekerjasama untuk merespon ide dan gagasan seorang Nadiem Makarim.

webinar kampus merdeka FAH

“Perubahan paradigma dan konsep dari Kemendikbud ini mengharapkan agar para alumni Perguruan Tinggi mampu memahami berbagai disiplin ilmu, karena permasalahan kehidupan dan tantangan para alumni nantinya semakin kompleks dan tidak bisa dipecahkan oleh satu disiplin ilmu saja. Kita sudah menerapkan kurikulum KKNI dan mengafirmasi OBE, yang sekarang harus diintegrasikan juga dengan program Kampus Merdeka – Merdeka Belajar agar kuallitas lulusan semakin baik dan kompetitif,” jelasnya yang dilanjutkan dengan membuka acara Diskusi virtual secara resmi. Acara pembukaan ditutup secara resmi dengan pembacaan doa oleh H. Mawardi, M.A.

Acara diskusi sendiri dimoderatori langsung oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik, Dr. H. Dadan Rusmana, M.Ag. yang terlebih dulu memberikan pengantar seputar tema yang akan dibawakan oleh kedua narasumber juga profil atau CV keduanya.

webinar kampus merdeka FAH

Prof Dr. H. Sutrisno, M.Ag. memaparkan detail substansi dan teknis program Kampus Merdeka – Merdeka Belajar di Perguruan Tinggi, khususnya di lingkungan PTKIN. Masalah Indikator Kinerja Utama (IKU) Kemendikbud, penyesuaian kurikulum hingga contoh simulasi pada prodi di lingkungan FAH tak luput dari pembahasannya.

“Mahasiswa biasanya kuliah hingga selesai di prodinya masing-masing, kecuali beberapa kegiatan di luar kampus, seperti KKN, PPL, PKL, penelitian tugas akhir, yang secara keseluruhan tidak sampai 15 SKS. Sekarang mahasiswa memiliki hak untuk belajar di luar prodi nya selama 3 semester, yang setara dengan 60 SKS. Satu semester lintas prodi dan dua semester kegiatan di luar kampusnya,” jelas Dewan Ahli Pokja Akademik dan Kurikulum Diktis Kemenag RI tersebut.

.

Prof. Sutrisno juga menjelaskan pentingnya pihak Fakultas untuk membahas secara detail mengenai teknis pelaksanaan program kampus merdeka ini dari sekarang. Sehingga jangan sampai menunggu juknis resminya turun, agar bisa lebih cepat beradaptasi dan jika juknis resminya turun, hanya perlu sedikit penyesuaian saja. “Dari A sampai Z harus dibicarakan semua dalam bentuk MoU dengan Perguruan Tinggi yang akan diajak kerjasama. Bagaimana teknisnya, kurikulumnya, pembiayaannya, penilaiannya dan lain-lain,” papar Guru Besar yang juga Wakil Rektor Bidang Akademik Dan Pengembangan Lembaga UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Adapun Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag. menyoroti beberapa permasalahan yang mungkin timbul dan membutuhkan pembahasan lebih intensif dalam pelaksanaan program Kampus Merdeka – Merdeka Belajar, khususnya di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Bandung tersebut juga mengapresiasi langkah FAH yang mengadakan acara diskusi kali ini. “Sebenarnya dari kampus sendiri belum sampai sosialisasi lebih lanjut ke tingkat fakultas untuk program ini, tapi saya apresiasi FAH sudah memulai dan menginisiasi serta mempersiapkan diri lebih awal untuk membahas hal ini agar lebih siap nantinya,” jelasnya membuka pembicaraan.

Beberapa permasalahan yang dijelaskan Prof. Rosihon dalam diskusi virtual kali ini diantaranya tempat magang tidak sesuai dengan profil lulusan, terutama untuk prodi-prodi murni keagamaan, kekhawatiran berkurangnya independensi kampus karena harus menyesuaikan diri dengan keinginan pasar, bagaimana ‘menerjemahkan’ administrasi saat magang, standar nilai saat mahasiswa mengambil kuliah di prodi yang tidak sesuai, pembahasan kurikulum oleh pihak fakultas dan jurusan dan berbagai permasalahan lainnya.

“Tentu saja kami tidak berada dalam posisi menolak program ini, tapi dalam posisi bagaimana caranya agar bisa cepat beradaptasi dan mengimplementasikan program kampus merdeka ini. Yang prosesnya agak lama adalah saat diterjemahkan kurikulumnya oleh fakultas dan jurusan, oleh karena itu kami memberi waktu hingga bulan Agustus nanti untuk hal ini,” imbuhnya.

“Permasalah lain misalnya terkait biaya, misalnya UKT di UIN yang bedanya sangat jauh, hingga puluhan juta dengan kampus lain seperti Unpad dan ITB. Jika dibebankan pada kampus lain tentu mereka tidak akan mau. Jika dibebankan pada mahasiswa, bagaimana jika mahasiswanya jadi tidak berminat? Ini juga perlu dibicarakan lebih intensif lagi,” jelas Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuludin UIN Bandung tersebut.

Flayer Kampus Merdeka FAH

Persoalan magang juga tidak luput dari pembahasan Prof. Rosihon, karena di UIN Bandung sendiri banyak prodi-prodi murni keagamaan dengan misi tafaqquh fiddin. “Program magang saya kira harus dibedakan terutama bagi prodi prodi agama murni. Misalnya saja untuk prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), yang dimaksud magang di tempat keja itu bagaimana batasannya? Apakah ngajar Al-Qur’an di masjid disebut kerja? Tentu dari prodi IAT agak sungkan jika hal seperti ini disebut kerja,” papar Prof. Rosihon yang sekaligus memantik diskusi para audiens.

Acara dilanjutkan dengan diskusi bersama para peserta. Berbagai pertanyaan terkait teknis pelaksanaan program Kampus Merdeka – Merdeka Belajar dijawab langsung oleh para narasumber. Jelang waktu zhuhur, acar ditutup dengan closing statement dari Dekan fakultas Adab, “Terimakasih kepada semua yang ikut berpartisipasi dalam webinar kali ini, khususnya kedua narasumber, dan insyaallah kegiatan ini akan Kami tindak lanjuti dengan mengadakan workshop kurikulum terkait kampus merdeka. Dan semoga Prof. Sutrisno bersedia untuk kami jadikan konsultan dalam kegiatan kami berikutnya,” tutup Dr. Setia Gumilar. (Addriadi)

Related Posts